Email Marketing: Pengertian, Manfaat, dan Panduannya
Perkembangan tren digital marketing saat ini memunculkan istilah-istilah baru seperti email marketing, viral marketing, affiliate marketing, dan banyak lagi. Pada artikel kali ini, kami akan membahas panduan dasar mengenai email marketing, meliputi pengertian, manfaat, dan hal-hal yang terkait dengan praktik pelaksanaannya.
Apa Itu Email Marketing?
Email marketing adalah salah satu strategi marketing yang menggunakan email channel dan akan digunakan bisnis untuk memperoleh, melibatkan, dan mempertahankan pelanggan. Ini disebut-sebut sebagai salah satu strategi digital marketing yang sangat powerful.
Dalam pelaksanaan strategi ini, semua aktivitas marketing dilakukan melalui email. Contohnya, untuk meningkatkan penjualan dengan mengirim penawaran, menginformasikan campaign khusus, melibatkan kembali pelanggan lama, mengumpulkan customer feedback, dan lain sebagainya.
Namun, bagaimana email marketing bekerja pada sebuah bisnis? Bagaimana strategi ini bermula, berapa banyak dan apa saja email yang diperlukan oleh sebuah bisnis untuk menjangkau pelanggan mereka dengan lebih dekat dan personal?
Yuk, baca terus artikel ini untuk cari tahu jawabannya!
Sejarah Email Marketing
Email sendiri pertama kali ditemukan oleh Ray Tomlinson pada 1971. Kemudian sepuluh tahun setelahnya email dalam jumlah besar dikirimkan pertama kalinya oleh Gary Thuerk dalam rangka mempromosikan produknya. Berangkat dari situ, pelaksanaan marketing melalui email terus dilakukan dan kian berkembang.
Untuk lebih jelas, Anda bisa melihat gambaran timeline perkembangan email marketing di bawah ini.
Jenis-Jenis Email Marketing
Anda bisa menggunakan email sebagai sarana komunikasi personal dengan klien/pelanggan bisnis untuk berbagai tujuan. Bagaimana pembagian jenis-jenis email marketing berdasarkan tujuan itu? Lihat penjelasannya di bawah ini!
Selain kelima email di atas, terdapat lebih banyak email yang biasa Anda gunakan dalam bisnis. Itu semua bergantung pada objektif bisnis Anda dalam menggunakan email sebagai channel atau sarana komunikasi kepada pelanggan. Lebih lanjut, baca artikel kami sebelumnya tentang jenis-jenis email marketing.
Metrik-Metrik Email Marketing
Mengenai analitik email, ada berbagai macam metrik yang bisa dilacak untuk menentukan keberhasilan email marketing campaign. Ada beberapa alasan mengapa memantau Key Performance Indicator (KPI) email marketing penting.
Salah satunya adalah untuk membantu melihat performa dari setiap pengiriman email yang dikirimkan, memilah strategi pengiriman mana yang harus diulang dan mana yang harus dibuang, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sebelum beranjak lebih jauh pada hal tersebut, berikut ini KPI yang perlu diperhatikan.
- Deliverability Rate
Deliverability rate adalah tingkat kemampuan untuk mengirimkan email dengan sukses ke alamat email pada daftar email yang Anda miliki atau masuk ke inbox pelanggan.
- Open Rate
Open rate adalah indikasi bahwa email yang dikirimkan telah dibuka oleh subscriber.
- Click-Through Rate (CTR)
Click-Through Rate (CTR) adalah persentase orang yang sudah melihat isi email dan juga mengklik atau melakukan action tautan di email.
- Unsubscribe Rate
Unsubscribe rate adalah persentase orang yang mengklik tombol “unsubscribe” pada email yang dikirimkan.
- Bounce Rate
Bounce rate adalah persentase total email yang dikirim ke daftar email Anda namun tidak terkirim ke penerima email.
- Spam Rate
Spam rate adalah persentase seseorang yang melaporkan atau menandai email yang dikirim sebagai spam.
Dos and Don’ts dalam Email Marketing
Seperti diketahui sebelumnya, bahwa email adalah marketing channel yang memiliki performa terbaik. Melakukan marketing lewat email akan memberikan ROI sebesar $44 untuk setiap $1 yang dibelanjakan. Fakta tersebut menjadikannya salah satu strategi pemasaran digital paling efektif di antara strategi lainnya.
Berikut ini beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam email marketing. Hal yang paling terlarang adalah membeli email list. Selain itu, apa lagi ya kira-kira hal yang sebaiknya tidak Anda lakukan dalam pelaksanaan email marketing campaign? Yuk, liat daftarnya di bawah ini!
Perkembangan Email Marketing saat Ini
Saat ini, maraknya penggunaan social media sebagai medium untuk melakukan strategi pemasaran membuat email seakan tenggelam. Namun, nyatanya tidak.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa email lebih tua dari internet. Email pertama dikirim oleh penemunya pada tahun 1971. Internet baru melakukannya 12 tahun kemudian. Hampir setengah abad berlalu, bagi para marketer mempelajari tren strategi ini menjadi sebuah keharusan dan kesenangan tersendiri, karena perubahan tren dalam email marketing cepat dan mudah berganti.
Dalam beberapa tahun terakhir, email berfokus pada pelanggan atau penerimanya, dan di 2021 tren personalisasi dapat membantu menembus filter “spam” yang ketat pada email. Hal ini menandakan bahwa beberapa tahun terakhir dan tahun yang akan datang email marketing akan lebih fokus kepada pendekatan dua arah.
Pertama adalah Anda bisa memaksimalkan cara membuat email dengan kualitas pesan yang lebih baik untuk audiens, disertai dengan personalisasi dan dikirimkan sesuai dengan segmentasi. Kedua yaitu membuat email yang lebih interaktif dan mobile friendly, karena menurut Upland, 60% penerima email membuka email melalui smartphone mereka.
Berikut ini beberapa perkembangan yang perlu diketahui dalam dalam strategi ini:
1. Hyper-Personalization
Hyper-Personalization adalah strategi pemasaran via email yang sangat personal. Cakupannya lebih dalam dibandingkan pemasaran personal lainnya. Oleh karena itu, tingkat keberhasilannya dalam mengonversi pelanggan jauh lebih tinggi.
Jika pemasaran personal lainnya hanya menggunakan pesan tentang penyebutan nama kontak dan promosi produk yang dibutuhkan, maka hyper-personalization ini lebih mendalam, misalnya bisa memasukkan data yang berkaitan dengan perilaku konsumen sebelumnya.
2. Penggunaan Artificial Intelligence
Penggunaan Artificial Intelligence (AI) menjadi tren di tahun 2020 hingga saat ini dan menjadi tren yang paling banyak dimanfaatkan oleh para marketer. Penggunaan AI dalam email marketing ini biasanya ditemukan pada fitur analytic yang bisa membantu untuk melakukan analisa performa campaign dengan auto generated yang dibantu oleh AI. Selain itu, penggunaan AI dalam email marketing dapat ditemukan pada fitur segmentasi, dengan begitu mengelompokkan pelanggan berdasarkan behaviour secara otomatis dapat dilakukan dengan mudah.
3. User-Generated Content
User-Generated Content (UGC) adalah segala bentuk konten (teks, video, gambar, audio) yang dibuat oleh pengguna akhir barang atau jasa, bisa dibilang user-generated content ini adalah konten testimoni pengguna. Sekitar 70% dari semua konsumen mendasarkan keputusan pembelian mereka pada ulasan dan penilaian dari pengguna lain. Seperti testimoni yang ada di media sosial para user sebuah produk atau layanan.
Oleh karena itu, ketika marketer memasukkan ini ke dalam email mereka, hal ini akan meningkatkan tingkat kepercayaan terhadap produk atau layanan yang dipromosikan.
4. Interactive Email
Interactive email adalah hal kunci dalam email marketing. Interactive email ini mampu meningkatkan interaksi dan engagement pelanggan pada email. Interaksi dalam email dapat membantu bisnis atau brand untuk mendapatkan engagement dari audiens.
Interaksi di dalam email ini bisa dimulai dengan membuat konten berupa polling, kuis singkat, dan CTA untuk melanjutkan berlangganan atau membaca pesan selengkapnya. Karena pada dasarnya, audiens ingin merasakan terlibat langsung dengan bisnis atau brand melalui berbagai channel yang digunakan untuk menjangkau mereka.
5. Mobile Friendly
Email mobile friendly adalah email dibuat responsif untuk berbagai device dan browser yang digunakan oleh pengguna. Sebuah bisnis perlu menerapkan email yang mobile friendly karena menurut eMailmonday, pengguna email lebih sering membuka email mereka melalui mobile devices, sehingga konten email perlu ditampilkan dengan benar di layar mereka.
Jika pengguna kesulitan melihat promosi atau penawaran yang dikirim, mereka kemungkinan tidak akan menunggu sampai mereka tiba di rumah dan membuka email mereka melalui desktop. Selain itu, email marketing yang dioptimasi untuk mobile dapat meningkatkan open rates sebesar 50%.
6. Fokus pada Privasi
Ketika General Data Protection Regulation (GDPR) diluncurkan pada tahun 2018, dunia email marketing berubah, dan mereka masih belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan realitas baru. Kemudian, pada 2020 dan 2021 tepat ketika pandemi mulai mewabah di berbagai belahan dunia.
Berbagai bisnis dengan gencar mengirimkan pembaruan terkait bisnis mereka kepada pelanggan melalui email. Pelanggan dibanjiri oleh berbagai email setiap harinya, baik tentang pembaruan perusahaan, maupun email promosi. Karena hal tersebut, di tahun ini tren fokus pada privasi menjadi tren utama.
7. E-Billing
E-Billing pada email erat kaitannya dengan Peraturan Pemerintah tentang “PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DALAM PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH BANK UMUM” pada Bagian Kedua mengenai Penempatan Sistem Elektronik pada Pusat Data dan atau Pusat Pemulihan Bencana, pasal 21 ayat 1 yang berbunyi: “Bank wajib menempatkan Sistem Elektronik pada Pusat Data dan Pusat Pemulihan Bencana di wilayah Indonesia.”
Sehingga dapat diartikan Bank diwajibkan memiliki pusat data yang berada di wilayah Indonesia.
Kemudian berdasarkan pasal 21 ayat 2 yang berbunyi: “Bank hanya dapat menempatkan Sistem Elektronik pada Pusat Data dan atau Pusat Pemulihan Bencana di luar wilayah Indonesia sepanjang mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan.”
Berdasarkan bunyi pasal tersebut, apabila Bank memiliki sistem di luar negeri, harus mendapatkan persetujuan dari OJK terlebih dahulu.
Dan seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa dampak dari pandemi di berbagai dunia membuat berbagai bisnis perlu lebih waspada lagi akan segala hal yang mereka keluarkan pada publik.
Salah satunya, dampak di Indonesia yaitu adaptasi teknologi di masyarakat diklaim terakselerasi sampai dengan 7 kali lipat. Hal ini tentunya mengubah kebiasaan masyarakat dalam bersosialisasi dan bertransaksi salah satunya pada proses jual beli.
Dengan segala keterbatasan, melalui teknologi berbasis situs atau aplikasi memungkinkan masyarakat untuk dapat membeli segala kebutuhan tanpa perlu keluar rumah melalui transaksi elektronik.
Namun, hanya sebagian kecil dari transaksi yang terjadi melalui bantuan internet ini dianggap sah dimata hukum yang diatur dalam UU ITE dan PP tentang “PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DALAM PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI”, yang mana hal ini diberlakukan untuk melindungi data transaksi penyedia layanan dan pelanggannya.
Secara tidak langsung, email merupakan salah satu channel yang paling aman digunakan untuk transaksi online dan bukti pembayaran online atau e-billing, karena email merupakan salah satu marketing channel yang legal dan segala percakapan di dalamnya dapat dijadikan bukti sah di pengadilan ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Dan berdasarkan UU ITE nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pasal 1 angka 2 UU ITE mendefinisikan transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan atau media elektronik lainnya. Salah satu aktivitas yang dimaksud adalah bukti transaksi yang harus dan dapat dijadikan alat bukti yang sah.
Tantangan dalam Membuat dan Menggunakan Email Marketing
Sebelumnya telah dibahas bahwa beberapa tahun terakhir, penggunaan AI untuk segmentasi dan relevansi pesan menjadi tren yang banyak dibahas oleh para email marketer, karena menjadi tantangan sekaligus solusi sendiri untuk mempermudah proses email marketing campaigns. Selain itu, ini dia beberapa tantangan yang ada:
1. Menentukan Frekuensi Pengiriman Email
Menentukan frekuensi pengiriman email sangat diperlukan, karena hal ini erat kaitannya dengan segmentasi dan relevansi pelanggan. Sebuah brand tidak diperbolehkan mengirimkan email campaigns dengan waktu yang berdekatan apalagi dikirim kepada audiens yang sama, karena hal tersebut akan berdampak pada performa pengiriman email mereka.
2. Meningkatkan Subscriber Engagement
Penerima email biasanya cukup responsif saat pertama kali berlangganan. Namun, setelah beberapa waktu, minat mereka mulai menurun karena beberapa alasan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk para email marketer, karena mereka perlu mencari tahu alasan penurunan minat subscriber yang akhirnya berdampak pada engagement email campaign.
Kemudian, mereka juga memiliki tantangan untuk mengatasi hal tersebut agar tidak berlarut terlalu lama.
3. Meningkatkan Customer Acquisition
Email marketing adalah channel retensi dan akuisisi pelanggan yang cukup efektif. Namun, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para marketer, karena pada saat customer list bertumbuh, bisnis belum memiliki plan panjang terkait hal ini.
Selain itu, Customer Acquisition Costs (CAC) juga terus meningkat selama lima tahun terakhir, dan akuisisi hanya mengacu pada mendapatkan pelanggan baru, tidak ada yang mengatakan mereka tidak akan churn.
4. Meningkatkan Retensi Pelanggan
Dalam bisnis, revenue tidak didapatkan dari pelanggan baru, melainkan dari pelanggan lama. Oleh karena itu, penting untuk fokus pada retensi pelanggan dibandingkan dengan akuisisi pelanggan baru, meskipun akuisisi ini juga penting dilakukan. Selain itu, memperoleh customer baru dapat menghabiskan biaya lima kali lipat lebih besar dari mempertahankan yang sudah ada.
Itu dia beberapa insight terkait dengan email marketing. Ingin mendapatkan tips dan trik menarik seputar email marketing lainnya? Kunjungi blog kami atau daftarkan diri Anda di sini untuk mencoba langsung layanan email marketing kami.
(J.R) edited by (V.V)