Mengenal Internet of Things (IoT), Cara Kerja, dan Contohnya

Bisnis adalah ladang yang paling tidak terbatas. Dengan sentuhan kreativitas di sana-sini, Anda bisa menjual hampir apapun. Bahkan, air yang muncul dari gunung saja bisa dikemas dan dipasarkan ke mana-mana. Apalagi, jenis-jenis pengembangan teknologi baru, seperti Internet of Things (IoT), yang dalam 10 tahun terakhir mengalami perkembangan sangat pesat.

Nah, tahukah Anda apa itu IoT? Bisa jadi Anda sudah pernah mendengarnya di suatu tempat namun lupa atau memang tidak pernah betul-betul mengerti maknanya. Bisa jadi juga Anda belum pernah tahu sama sekali tentang istilah teknologi ini. Maka dari itu, kami membuat artikel ini khusus untuk membahas definisi dan konsep dasar IoT, serta peran dan pemanfaatannya dalam kehidupan, khususnya pada bisnis dan marketing.

Apa Itu Internet of Things (IoT)?

IoT merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada sistem teknologi baru, di mana internet dapat masuk ke segala objek. Seperti namanya ketika diterjemahkan, IoT berarti internet untuk segala.

Agar semakin jelas, langsung saja pada contoh. Di masa lalu, kita mengenal daun pintu sebagai sebuah benda yang bisa dibuka tutup untuk menghubungkan satu ruang dengan ruangan lain atau luar ruangan. Untuk membukanya, Anda perlu mendorong, menarik, atau menggesernya. Kemudian untuk menguncinya, Anda bisa menggunakan gembok atau kunci yang menempel pada pegangannya.

Dengan penerapan IoT, daun pintu kini dapat berperan lebih dari itu. Anda bisa membangun sebuah smart door yang dapat terbuka dan tertutup dengan sendirinya setiap kali ada yang hendak lewat. Anda bisa menggunakan sensor jarak, panas tubuh, maupun beban. Data-data masukan dari sensor dan reaksi keluarannya pun dapat dipantau dan diatur melalui sebuah User Interface (UI).

Lebih dari itu, pintu yang berupa modifikasi dari IoT memungkinkan Anda untuk memasang smart lock. Jadi, Anda bisa mengatur siapa saja yang dapat dan/atau tidak dapat melewati pintu tersebut. Jika mau, Anda juga bisa menambahkan kamera guna menyimpan data rekaman tentang siapa atau apa saja yang terjadi di sekitar pintu.

Bagaimana Cara Kerja Internet of Things (IoT)?

IoT bekerja dengan menghubungkan perangkat ke internet dan kemudian mengumpulkan serta menganalisis data dari perangkat tersebut. Data kemudian dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi, mengotomatiskan tugas, atau membuat keputusan yang lebih baik.

Di bawah ini akan kami jelaskan cara kerja IoT secara lebih rinci berdasarkan komponen-komponen penyusunnya.

1. Sensor dan/atau Aktuator

Di urutan pertama, ada perangkat pengindraan berupa sensor dan/atau aktuator. Sensor adalah instrumen yang digunakan untuk mengambil data. Jenis, bentuk, dan ukuran sensor dapat bervariasi. Biasanya perangkat sensor cukup kecil dan kompatibel untuk ditempatkan ke dalam kesatuan perangkat yang dibangun.

Sebagai contohnya, ada sensor cahaya yang akan mengambil data berupa intensitas cahaya, ada sensor jarak yang akan mengambil data berupa jarak sensor dari objek yang ingin diukur dalam satuan yang ditetapkan, ada sensor gerak yang dapat mendeteksi objek yang melintas di depannya, ada sensor suhu yang berfungsi mengambil data temperatur, baik itu ruangan, makhluk hidup, maupun air, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, aktuator merujuk pada instrumen yang akan memberi reaksi terhadap data yang sebelumnya telah diambil oleh sensor. Contohnya, ketika sensor suhu mendeteksi temperatur ruangan di atas batas yang telah ditetapkan, aktuator dapat mengeluarkan reaksi berupa penyiraman air.

Maka dari itu, aktuator ini biasanya berupa mesin yang dapat bergerak, seperti pompa, solenoid valve, switch, dan sebagainya. Nah, untuk menghubungkan sensor dan aktuator, kita butuh yang namanya microcontroller.

2. Microcontroller (MCU)

Perangkat sensor dan aktuator yang Anda miliki tidak dapat bekerja sendiri. Anda perlu menghubungkannya dengan microcontroller dan mengatur cara kerjanya melalui pemrograman. Terdapat beberapa jenis microcontroller yang kerap digunakan dalam IoT. Beberapa yang paling populer di antaranya ada Arduino dan NodeMCU.

Kode program yang dimasukkan ke dalam microcontroller berfungsi untuk mengaktifkan kerja perangkat. Mulai dari pendefinisian pin yang dipakai sebagai input, power, dan ground, hingga mengatur threshold dan respons dari aktuator.

3. Konektivitas

Konektivitas merupakan inti dari Internet of Things. Dengan perangkat-perangkat dan aturan pemrograman yang ada, Anda bisa saja menciptakan sistem seupa IoT. Namun, itu tidak dapat benar-benar disebut IoT tanpa adanya konektivitas. Pasalnya, elemen inilah yang akan menentukan bagaimana komponen lain saling terhubung, seperti dalam kasus sensor dan aktuator tadi.

Pilihan koneksi yang umum digunakan dalam dunia IoT antara lain melalui Wi-Fi, LAN, WAN, satelit, dan jaringan seluler. Anda dapat menyesuaikannya dengan kondisi sistem yang Anda miliki. Ini terkait dengan jarak, bandwidth, obstacle/noise, konsumsi daya, dan sebagainya.

Selain itu, Anda juga perlu menyesuaikan koneksi dengan jenis microcontroller yang Anda gunakan. Pasalnya, tidak semua microcontroller mendukung penggunaan Wi-Fi, sehingga jika tetap ingin menggunakannya Anda perlu perangkat tambahan yang disebut adaptor.

4. Server dan Pengolahan Data

Data-data dari sensor dan aktuator akan masuk ke dalam server. Di sini Anda bebas memilih server lokal atau cloud. Adapun proses pengolahan data yang terjadi memerlukan sebuah metode. Anda bisa misalnya menggunakan REST API, WebSocket, dll.

5. User Interface

Terakhir dan yang tak kalah penting, sebuah sistem IoT harus memiliki User Interface (UI) guna menghubungkannya dengan manusia sebagai pengguna. UI yang dipakai bisa berupa halaman website sederhana sampai aplikasi mobile yang sangat kompleks. Untuk sinkronisasi, pada perangkat IoT sendiri kerap dipasang perangkat LCD yang menampilkan data-data sensor dan waktu.

Manfaat dan Contoh Internet of Things dalam Digital Marketing

Internet of Things telah banyak digunakan dalam berbagai bidang industri, mulai dari rumah tangga sampai kesehatan. Pada penerapannya, IoT juga dapat dipadukan dengan Artificial Intelligence (AI) dan Machine to Machine (M2M). Sebut saja smart home, alat penyiram tanaman otomatis, jam tangan kesehatan, dan lain sebagainya.

Tapi tahukah Anda, manfaat IoT juga dapat diterapkan untuk keperluan marketing. Di bawah ini akan kami sebutkan contoh Internet of Things.

1. Real-Time Personalization

Perangkat IoT dapat mengumpulkan data tentang perilaku pelanggan secara real-time. Data ini dapat digunakan untuk mempersonalisasi pesan dan penawaran pemasaran.

Contoh penggunaan IoT: Anda dapat mengirimkan push notification ke smartphone pelanggan saat mereka masuk ke toko. Sistem ini bisa melibatkan sensor pengenalan wajah yang dihubungkan dengan database pelanggan. Catatannya, sistem ini hanya dapat diberlakukan untuk pelanggan yang sudah tercatat di database Anda. Pemberitahuan tersebut dapat menyertakan kupon diskon untuk produk yang telah dilihat pelanggan secara offline.

2. Analitik Prediktif

Salah satu kemampuan IoT adalah untuk mengumpulkan data perilaku pelanggan dari waktu ke waktu. Data ini dapat digunakan untuk mengembangkan model prediktif untuk memprediksi perilaku pelanggan di masa mendatang.

Contoh: Sistem pengidentifikasi pelanggan yang kemungkinan besar akan melakukan churn. Dengan begitu, Anda dapat menargetkan pelanggan ini dengan pesan marketing yang dirancang untuk mencegah mereka pergi. Ini bisa dilakukan dengan membaca aktivitas mereka di produk digital atau website Anda.

3. Targeted Ads

IoT memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data lokasi pelanggan yang dapat Anda gunakan untuk menargetkan iklan dengan lebih tajam secara otomatis.

Contoh: Anda dapat menampilkan iklan kipas angin kepada pelanggan yang berada di lokasi dataran rendah atau perkotaan yang panas. Sistem ini menghubungkan data lokasi dengan pesan promosi yang secara otomatis dapat dikirimkan kepada audiens dengan data terdaftar dalam database.

4. Deteksi Penipuan

Perangkat IoT dapat mengumpulkan data interaksi pelanggan dengan situs web atau aplikasi. Data ini dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas penipuan.

Contoh: Sistem untuk mengidentifikasi pelanggan yang mencoba membuat banyak akun untuk memanfaatkan promosi. Dengan ini, keluarannya dapat berupa pemblokiran atau penanganan lanjutan di dunia nyata berdasarkan regulasi yang ada.

5. Customer Support

Teknologi IoT dapat mengumpulkan data tentang masalah pelanggan. Anda bisa memandaatkan sistem terpadu antara IoT dan embeded system untuk menciptakan automasi dukungan pelanggan.

Contoh: Sebuah sistem pengidentifikasian pelanggan yang mengalami masalah dengan suatu produk. Anda kemudian dapat menghubungi pelanggan ini untuk menawarkan bantuan.

Baca Juga

Demikian artikel kali ini membahas Internet of Things (IoT) beserta contoh penerapannya pada digital marketing. Dapatkan lebih banyak informasi menarik lainnya tentang penerapan teknologi dalam aktivitas marketing di blog kami. Anda juga bisa menjajal langsung tools yang kami sediakan, seperti email marketing, online form, landing page, dan lainnya di sini.

(V.V)